Jika kita jujur, kita akan mengakui kalau kita pasti pernah marah dan kecewa. Kebanyakan kita tahu bagaimana rasanya menanti diantrean panjang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan. Atau, bagaimana rasanya kehilangan kesempatan penting untuk sesuatu yang sudah lama kita nanti-nantikan.
Kita dapat berempati dengan orang-orang yang tidak mendapatkan promosi. Orang-orang yang ide-idenya ditolak dirapat pemilik saham. Orang-orang yang terjebak dilampu merah, atau diabaikan, diserobot, ditakut-takuti, diperlakukan dengan buruk disepanjang jalan kehidupan. Kita semua mengalami gejolak kemarahan dan rasa sakit yang timbul dalam hati kita.
Kemarahan memiliki berbagai bentuk, ada yang halus dan hamper tidak terlihat, ada pula yang kasar dan kelihatan jelas sekali. Jika dibiarkan, kemarahan bias segera berkembang menjadi kekuatan berbahaya yang mempengaruhi kehidupan spiritual, emosi, mental dan fisik kita.
Baik orang yang melampiaskan kemarahan maupun yang menekan kegeraman dan mengasihani diri. Biasanya sulit mempertahankan hubungan pribadi yang baik dengan orang lain. Tak ada yang lebih cepat menghancurkan relasi yang penuh kasih selain dari dendam atau amarah yang dipendam.
Persekutuan dengan Tuhan juga akan terganggu, membuat kita tidak bias mengalami kepenuhan berkatNya.
Kemarahan, sekalipun merupakan pemberian dari Tuhan juga, harus ditangani sesuai dengan standar Tuhan, jika dipendam dan tidak disalurkan dengan cara yang tepat, kemarahan dapat menjadi pintu gerbang bagi masuknya berbagai persoalan hidup.
Bersyukurlah, Tuhan sudah member kita cara untuk mengatasi perasaan-perasaan marah, kita dapat melepaskannya dan mengampuni. Hal ini bukan berarti menyangkali kekecewaan dan sakit hati yang kita alami. Alkitab mencatat banyak contoh ketika Tuhan juga marah terhadap orang-orang yang melanggar perintahNya. Yesus marah kepada para pedagang dan penukar uang di bait Allah (Markus 11:15). Dia mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Matius 21:19). Namun, tidak seperti kebanyakan dari kita, Tuahn mengungkapakan kemarahan karena kasih dan kebenaran. Dia tidak menyimpan dendam tetapi mengampuni dan terus melanjutkan mengasihi.
Sesungguhnya, kita dapat mengalami kemerdekaan yang luar biasa jika kita menyerahkan sakit hati dan kemarahan kita kepada Tuhan. Dialah pribadi yang tahu benar cara mengatasi emosi yang kuat ini dan mengubahnya menjadi kebaikan.
Sumber : sentuhanhati.com




