Sebelum alami ‘mimpi buruk’ di tempat kerja, kenali ciri-ciri lingkungan kerja tak sehat.

Bagaimana lingkungan kerja saat ini? Setiap orang tentu ingin memiliki lingkungan kerja yang sehat dan menyenangkan, sehingga karier tumbuh dan berkembang dengan baik.
Namun, tak jarang keinginan tinggal keinginan, sementara jika ingin pindah kerja, belum ada perusahaan bisa menerima dalam waktu dekat. Akibatnya, Anda jadi stres.

Sebelum Anda mengalami ‘mimpi buruk’ seperti ini, berikut merupakan ciri-ciri lingkungan kerja yang tidak sehat. Jika apa yang dipaparkan di bawah ini ada dalam lingkungan kerja Anda, Anda dapat mengantisipasinya sejak dini.

1. Dilarang multitasking
Biasanya perusahaan sehat sangat senang jika karyawannya produktif dan mau berbuat lebih dari sekadar yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Perusahaan tidak sehat sebaliknya, tak suka pada karyawan 'serba bisa'. Biasanya hal ini terjadi, karena khawatir karyawan itu mengetahui hal-hal yang tidak seharusnya diketahui. Jadi, perusahaan memberikan tugas-tugas bersifat khusus dan terpisah-pisah bagi karyawannya agar mudah dikontrol.

2. Rapat tidak efektif
Rapat semestinya merupakan ajang untuk saling berbagi ide, data, dan tujuan yang jelas untuk kemajuan perusahaan. Namun, dalam lingkungan kerja tidak sehat, rapat hanya menjadi ajang untuk saling menyalahkan, memojokkan, dengan disertai hitungan-hitungan matematika memusingkan, dan metafora-metafora klise.

Read more...

1.    MENYALAHKAN ORANG LAIN
Itu penyakit P dan K, yaitu Primitif dan Kekanak-kanakan. Menyalahkan orang lain adalah pola pikir orang primitif. Di pedalaman Afrika, kalau ada orang yang sakit, yang Dipikirkan adalah : Siapa nih yang nyantet ? Selalu "siapa" Bukan "apa" penyebabnya. Bidang kedokteran modern selalu mencari tahu "apa" sebabnya, bukan "siapa". Jadi kalau kita berpikir menyalahkan orang lain, itu sama dengan sikap primitif. Pakai koteka aja deh, nggak usah pakai dasi dan jas! Kekanak-kanakan. Kenapa ?
Anak-anak selalu nggak pernah mau disalahkan. Kalau ada piring yang jatuh," Adik tuh yang salah", atau " mbak tuh yang salah". Anda pakai celana monyet aja kalau bersikap begitu. Kalau kita manusia yang berakal dan dewasa selalu akan mencari sebab terjadinya sesuatu.

2.    MENYALAHKAN DIRI SENDIRI
Menyalahkan diri sendiri bahwa dirinya merasa tidak mampu. Anda pernah mengalaminya ? Kalau anda bilang tidak pernah, berarti anda bohong. "Ah, dia sih bisa, dia ahli, dia punya jabatan, dia berbakat dsb, Lha saya ini apa ?,wah saya nggak bisa deh. Dia S3, lha saya SMP, wah nggak bisa deh. Dia punya waktu banyak, saya sibuk, pasti nggak bisa deh". Penyakit ini seperti kanker, tambah besar, besar di dalam mental diri sehingga bisa mencapai "improper guilty feeling".
Jadi walau yang salah partner, anak buah, atau bahkan atasan, berani bilang "Saya kok yang memang salah, tidak mampu dsb". Penyakit ini pelan-pelan bias membunuh kita. Merasa inferior, kita tidak punya kemampuan. Kita sering membandingkan keberhasilan orang lain dengan kekurangan kita, sehingga keberhasilan orang lain dianggap wajar karena mereka punya sesuatu lebih yang kita tidak punya.

Read more...

Benarkah yang ada dalam otak pria hanya urusan seks? Benarkah pria juga bisa tersentuh hatinya hingga menitikkan air mata? Baca yang berikut ini untuk menguak rahasia otak pria.

1. Lebih emosional
Perempuan memang dikenal lebih emosional. Padahal sesungguhnya pria juga punya reaksi emosi yang kuat, tetapi itu sebelum mereka menyadari perasaannya.

Dalam sebuah penelitian yang dimuat di jurnal Scandinavian Journal of Psychology, diketahui begitu seorang pria sadar atau mengenali perasaan hatinya, mereka akan langsung memasang tampang datar. Tak heran kalau mereka dianggap lebih "kuat" menahan emosi.

2. Tak tahan kesepian
Meskipun ada saat-saat tertentu dalam hidup ini yang membuat kita merasa kesepian, ternyata perasaan sendiri ini lebih menyiksa bagi kaum pria. Penelitian menyebutkan kesepian bisa menyebabkan gangguan kesehatan.

Karena itulah, pria yang memiliki hubungan yang stabil cenderung lebih sehat, panjang umur, dan memiliki kadar hormon pelawan stres lebih tinggi. Studi yang dimuat dalam jurnal Biology of Reproduction tahun 2009 menyebutkan pria yang menikah memiliki tingkat kesuburan lebih panjang dibanding pria yang jomblo.

3. Fokus pada solusi
Banyak orang berpendapat bahwa kaum perempuan merupakan teman curhat yang baik karena mereka mudah berempati. Sesungguhnya "sistem empati" dalam otak pria juga memberikan respon saat orang lain terlihat stres atau bermasalah. Namun, bagian otak lain yang berfokus pada solusi segera mendominasi.

"Dengan segera berbagai solusi pada masalah segera bermunculan di otak pria," kata Dr.Louann Brizendine, ahli psikologi klinik dari Univesity of California, AS. Akibatnya, pria akan lebih fokus untuk menawarkan solusi ketimbang menunjukkan solidaritas atau berempati pada perasaan orang lain.

4. Mudah tergoda
Hormon testosteron punya kaitan erat dengan sikap agresif dan kekerasan. Namun hormon ini juga mengatur libido. Pada pria, testosteron ini jumlahnya enam kali lebih banyak dibanding pada wanita.  Itu sebabnya laki-laki jauh lebih terobsesi terhadap seks daripada perempuan. 

5. Posesif
Dalam teori evolusi, salah satu tugas pria adalah mempertahankan teritorinya. Penelitian pada hewan percobaan menunjukkan area otak "mempertahankan teritori" ini lebih luas dibanding pada otak hewan betina. Meskipun perempuan juga punya kecenderungan untuk posesif, namun pria relatif tak segan menggunakan kekuatannya ketika teritori mereka, bisa berupa keluarga atau kekasih, terancam.

6. Menyukai hirarki
Hirarki yang tidak jelas bisa mendatangkan rasa cemas bagi pria. Mereka akan bingung menentukan siapa yang paling berkuasa. Karena itu sistem komando, seperti yang dipraktikkan oleh militer atau organisasi perusahaan, akan meredakan pengaruh testosteron dan mengekang sikap agresif pria.

7. Siap menjadi ayah
Pada saat kehamilan, bukan hanya hormon calon ibu yang berubah, tapi juga calon ayah. Pada pria juga akan terjadi peningkatan hormon prolaktin dan penurunan testosteron. Dengan kata lain, pada otak pria juga terjadi perubahan sedemikian rupa yang membuatnya siap menyambut calon buah hatinya.
Sumber:  kompas

Jika kita jujur, kita akan mengakui kalau kita pasti pernah marah dan kecewa. Kebanyakan kita tahu bagaimana rasanya menanti diantrean panjang untuk sesuatu yang sebenarnya tidak kita inginkan. Atau, bagaimana rasanya kehilangan kesempatan penting untuk sesuatu yang sudah lama kita nanti-nantikan.

Kita dapat berempati dengan orang-orang yang tidak mendapatkan promosi. Orang-orang yang ide-idenya ditolak dirapat pemilik saham. Orang-orang yang terjebak dilampu merah, atau diabaikan, diserobot, ditakut-takuti, diperlakukan dengan buruk disepanjang jalan kehidupan. Kita semua mengalami gejolak kemarahan dan rasa sakit yang timbul dalam hati kita.
Kemarahan memiliki berbagai bentuk, ada yang halus dan hamper tidak terlihat, ada pula yang kasar dan kelihatan jelas sekali. Jika dibiarkan, kemarahan bias segera berkembang menjadi kekuatan berbahaya yang mempengaruhi kehidupan spiritual, emosi, mental dan fisik kita.
Baik orang yang melampiaskan kemarahan maupun yang menekan kegeraman dan mengasihani diri. Biasanya sulit mempertahankan hubungan pribadi yang baik dengan orang lain. Tak ada yang lebih cepat menghancurkan relasi yang penuh kasih selain dari dendam atau amarah yang dipendam.
Persekutuan dengan Tuhan juga akan terganggu, membuat kita tidak bias mengalami kepenuhan berkatNya.

Kemarahan, sekalipun merupakan pemberian dari Tuhan juga, harus ditangani sesuai dengan standar Tuhan, jika dipendam dan tidak disalurkan dengan cara yang tepat, kemarahan dapat menjadi pintu gerbang bagi masuknya berbagai persoalan hidup.
Bersyukurlah, Tuhan sudah member kita cara untuk mengatasi perasaan-perasaan marah, kita dapat melepaskannya dan mengampuni. Hal ini bukan berarti menyangkali kekecewaan dan sakit hati yang kita alami. Alkitab mencatat banyak contoh ketika Tuhan juga marah terhadap orang-orang yang melanggar perintahNya. Yesus marah kepada para pedagang dan penukar uang di bait Allah (Markus 11:15). Dia mengutuk pohon ara yang tidak berbuah (Matius 21:19). Namun, tidak seperti kebanyakan dari kita, Tuahn mengungkapakan kemarahan karena kasih dan kebenaran. Dia tidak menyimpan dendam tetapi mengampuni dan terus melanjutkan mengasihi.
Sesungguhnya, kita dapat mengalami kemerdekaan yang luar biasa jika kita menyerahkan sakit hati dan kemarahan kita kepada Tuhan. Dialah pribadi yang tahu benar cara mengatasi emosi yang kuat ini dan mengubahnya menjadi kebaikan.

Sumber : sentuhanhati.com