Warning: strtotime() [function.strtotime]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Jakarta' for 'WIT/7.0/no DST' instead in /home/cmnindo1/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 56
Warning: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Jakarta' for 'WIT/7.0/no DST' instead in /home/cmnindo1/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Warning: date() [function.date]: It is not safe to rely on the system's timezone settings. You are *required* to use the date.timezone setting or the date_default_timezone_set() function. In case you used any of those methods and you are still getting this warning, you most likely misspelled the timezone identifier. We selected 'Asia/Jakarta' for 'WIT/7.0/no DST' instead in /home/cmnindo1/public_html/libraries/joomla/utilities/date.php on line 198
Bacaan: Matius 7:1-5
Sir Percival Lowell adalah astronom ternama pada akhir abad ke-19. Ketika melihat planet Mars dari teleskop raksasa di Arizona, ia melihat ada garis-garis di planet itu. Menurutnya, itu adalah kanal-kanal buatan makhluk planet Mars. Lowell mengabdikan seluruh hidupnya untuk memetakan garis-garis itu. Namun, foto satelit kini membuktikan tidak ada kanal di Mars. Lantas apa yang dilihat Lowell? Ternyata ia melihat pembuluh-pembuluh darah di matanya sendiri saat melihat teleskop! Ia menderita penyakit langka yang kini disebut "Sindrom Lowell".
Sama seperti Lowell, kita pun bisa salah memandang orang lain. Sifat-sifat buruk orang lain tampak begitu besar dan nyata, sehingga kita terdorong untuk menegur dan menghakiminya. Padahal tanpa sadar kita pun punya sifat buruk itu, bahkan mungkin lebih parah! Ini ibarat orang yang mau mengeluarkan serpihan kayu dari mata orang lain, padahal ada balok di matanya sendiri. Sebuah perbuatan munafik yang tidak akan berhasil. Seseorang harus menyadari dulu sifat-sifat buruknya sendiri, lalu berusaha mengatasinya. "Balok di matanya" harus dikeluarkan, sebelum bisa menegur orang dengan penuh wibawa.
Sikap suka menghakimi kerap muncul dalam keluarga. Bisa terjadi dalam hubungan antara orangtua dan anak, atau suami dan istri. Kedekatan membuat kita sangat mengenal cacat cela orang-orang yang kita kasihi. Akibatnya, kita menjadi sangat mudah menemukan kesalahan mereka. Ini yang harus kita waspadai. Lain kali, sebelum menuduh dan mencaci-maki, periksalah diri sendiri dulu. Belum tentu kita lebih baik dari mereka. Jadi, lebih baik saling menasihati daripada saling menghakimi.
DENGAN MENGHAKIMI KITA MERASA DIRI HEBAT
DENGAN SALING MENASIHATI KITA AKAN MERASA DIRI SEDERAJAT
Berbagai informasi yang semakin terbuka, mau tak mau, sampai ke telinga anak. Anak masa kini juga semakin cerdas dan kritis dengan pengalaman eksplorasi dirinya. Termasuk seputar tubuh dan seksualitas.
Sebagai orangtua, jangan mudah gusar saat anak mulai bertanya tentang payudara, penis, dan vagina. Lebih jauh lagi, jika anak mulai ingin tahu, apa itu melahirkan atau mulai membandingkan ukuran kelaminnya.
Psikolog Sani B. Hermawan, Psi, menyebutkan tujuh sikap orangtua yang tepat untuk menjawab pertanyaan anak:
1. Luangkan waktu dan mulailah dialog
Bersikaplah aktif, jangan hanya menunggu. Sebagai orangtua Anda perlu berinisiatif membangun dialog dengan anak, dengan memberikan pemahaman seks sesuai kebutuhan dan tahapan anak (lihat tahapan edukasi seks). Luangkan waktu bersama pasangan, untuk membangun dialog dengan anak.
"Jangan hanya menunggu anak bertanya kepada Anda, nanti terlambat, anak sudah terlanjur merajalela mencari informasi dari luar yang belum tentu benar," jelas Sani dalam media workshop di Annex Building, Wisma Nusantara Complex, Jakarta, Kamis (22/7/2010) lalu.
2. Terbuka dan informatif
Orangtua perlu lebih terbuka kepada anak-anak dalam mentransfer informasi. Terkait seputar seksualitas, orangtua perlu memberikan pemahaman sikap yang dibolehkan dan yang tidak. Tumbuhkan rasa malu dalam diri anak, kata Sani. Misalnya, keluar dari kamar mandi tidak boleh telanjang tetapi harus menutupi tubuhnya. Dengan cara ini anak bisa belajar bersikap dan membedakan sikap baik dan buruk seputar tubuhnya.
3. Lengkapi dengan materi
Bekali diri dengan membaca berbagai referensi. Sempatkan waktu bersama pasangan, untuk berdialog dengan para pakar. Sebagai orangtua dalam era pola asuh modern, Anda perlu membekali diri dengan berbagai informasi yang benar. Termasuk cara menyampaikan yang tepat kepada anak, misalnya tidak menggunakan bahasa kiasan, tetapi istilah ilmiah.

